Penulis: Ahmad Alkadri

Di Bruges

“Bruges. Where is that?” Tidak jauh dari Brussels, menaiki kereta api satu kali tanpa transit, aku tiba di sebuah tempat yang digadang-gadang sebagai kota paling terkenal di Belgia. Begitu menginjakkan kaki di sana, aku pun langsung menyadari bahwa berita yang kudengar dari kota itu tidak main-main: the hype is real. Ratusan turis mengalir keluar dari stasiun setiap detiknya, melangkah beramai-ramai menuju halte bus, atau berjalan kaki, atau membuka sepeda lipat mereka dan mulai melaju menuju pusat kota. Bruges. Aku mengetahui nama kota ini dari sebuah film. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi mengenainya. Situs wisata apa yang terkenal, makanan khas setempat, lokasi-lokasi untuk pestanya, tempat kumpul anak muda, komunitasnya, sama sekali tidak ada yang kuketahui. Aku tidak punya ekspektasi sama sekali mengenai apa yang akan kuhadapi di sana atau apa yang kuharapkan dari kota itu. Or… maybe I did? Iklan

Wafel Cokelat dan Patung Buang Air Kecil di Brussels

Musim dingin telah tiba di Eropa sejak pertengahan November. Namun, baru di Brussels aku benar-benar merasakan dampak yang dibawanya. Bertolak dari Luxembourg yang relatif hangat dan cerah, aku disambut di Brussels, ibukota Belgia, dengan udara yang dingin membeku. Langit diselubungi oleh awan kelabu, angin bertiup cukup kencang hingga membuat seorang pengendara sepeda nyaris kehilangan keseimbangannya dan harus berpegangan pada tiang lampu rambu lalu lintas, dan orang-orang berjalan kaki dengan cepat, merundukkan kepala serta memasukkan tangan ke saku mereka masing-masing.

Naik-Turun Lembah di Luxembourg

Lebih dari dua minggu lalu, ujian akhir semester saya di Perancis akhirnya selesai. Setelah berhari-hari hanya tidur beberapa jam demi belajar, mengonsumsi kopi bergalon-galon, dan datang ke kampus dengan mata merah, liburan natal dan tahun baru akhirnya tiba. Saya pun melakukan sesuatu yang sudah saya rencanakan sejak lama: mengemasi pakaian, alat mandi, celana training, dan pakaian dalam secukupnya ke dalam tas carrier dan berangkat meninggalkan asrama. Dengan menggunakan kereta TER yang berangkat dari Gare de Nancy, saya memulai perjalanan saya traveling keliling Eropa.

Jalan Kaki ke Eiffel

Apabila kita ibaratkan sebuah kota sebagai sesosok makhluk hidup, tak bisa dipungkiri bahwa kita, para manusia, merupakan penyuplai tenaganya. Hal itu kusadari di Paris, Sang Kota Cahaya, saat aku berkunjung ke sana. Ribuan orang bergerak keluar-masuk kereta bawah tanah bagaikan darah yang keluar masuk pembuluh. Lebih banyak lagi dari mereka yang bergerak, bersama-sama, di kanan-kiri trotoar yang lebar, diiringi dengan bunyi berbagai jenis kendaraan bermotor. Dan, hari itu, bagai sesosok raksasa, Paris menjulang di hadapanku dengan mengancam, memamerkan taring-taringnya. Namun, bagai singa yang menguasai rimba, ia juga memikatku dengan keindahannya, keunikannya, dan sejarahnya.

Pasar Loak (Dua Minggu di Nancy)

Seorang bijak pernah berkata bahwa semakin senang kita menjalani sesuatu, waktu akan terasa lebih cepat. Hari dan tahun akan berlalu sekejap mata, menyisakan kenangan dan perandaian, “Seandainya waktu bisa diulang kembali.” Sebaliknya, semakin kita tidak menyukai sesuatu, saat menjalankannya, waktu akan terasa berlangsung sangat lama. Tak percaya? Ingat-ingat saja masa-masa kita kecil dulu, saat kita menjalani puasa pertama kali, dan menunggu datangnya adzan maghrib yang tak kunjung tiba. Apa reaksi pertama kita saat mendengarnya? “Ah, akhirnya.” Saya sendiri sudah banyak mengalami hal-hal seperti itu. Kencan akhir pekan yang berlangsung berjam-jam terasa hanya seperti semenit saja. Empat tahun kuliah sarjana berlalu begitu cepat. Periode pencarian kerja, mengikuti banyak sekali job fair, dipanggil untuk wawancara, ditolak, diterima, mulai bekerja, mulai kuliah lagi, dan masih banyak lagi contoh-contohnya. Tapi, teori itu tidak melulu berlaku. Terbukti sepanjang dua minggu saya di sini, dengan udara yang sangat gigit mendingin, bahasa setempat yang masih belum saya kuasai, keterbatasan dana, perkuliahan dengan tugas-tugasnya; tak satu pun dari hal-hal tersebut bisa saya anggap sebagai sesuatu yang benar-benar menyenangkan. Namun, toh kenyataannya, rasanya hampir sama: dua …