55k

55k

Oleh: Ahmad Alkadri.

Summary: Seorang pria memperjuangkan cintanya melalui sebuah ponsel murah

.
.

“Handphone-ku hilang!”

“Hah?”

“Handphone-ku hilang!” Aku berkata, lebih keras, dengan panik mencari dan merogoh-rogoh seluruh kantong yang ada di bajuku. Tasku sendiri sudah kubongkar habis, di tengah trotoar, di bawah gerimis hujan kota tersebut, namun aku tak peduli.

“Coba tenang dulu, San. Ketinggalan di bus, kali?”

Aku menoleh ke temanku, Indra, yang berjongkok di sebelahku dan mencoba membereskan kembali isi tasku yang tersebar di trotoar sembari meminta maaf kepada para pejalan kaki yang lewat. Aku tidak peduli dengan para pejalan kaki tersebut, tapi aku mendengarkan Indra. Ingatanku sangat buruk, dan Indra tahu itu. Ada kemungkinan handphone-ku memang tertinggal di bus, lupa kumasukkan kembali ke kantongku setelah kujepit di bawah pahaku sepanjang perjalanan barusan.

Kami berjalan kembali ke terminal bus. Begitu sampai di sana, harapanku sirna saat mendengar bahwa bus yang mengantar kami ke kota tersebut sudah berankat lagi, baru saja. Biasanya kalau ada barang ketinggalan akan dilaporkan, mungkin Anda bisa meninggalkan nomor kontak, kata petugas keamanan di terminal. Ide bagus, jawab Indra, dan dia memberikan nomor kontaknya.

Setelah itu, kami menumpang angkot untuk sampai ke hotel tempat kami menginap. Saat di perjalanan, gerimis berubah menjadi hujan. Kami sampai di kamar kami masing-masing dalam keadaan basah kuyup.

***

Saat itu adalah kali pertama aku mengunjungi Kota Bogor. Sebagaimana sudah kudengar sebelumnya, Bogor terkenal akan beberapa hal: pertama, angkotnya, yang menyebabkan kemacetan parah; kedua adalah kebun rayanya, dengan koleksi pohon-pohon yang konon katanya dari seluruh dunia; dan yang ketiga adalah hujannya.

Tujuanku datang ke Bogor, menempuh perjalanan jauh dari Jawa Tengah ke Jawa Barat, adalah mengikuti kegiatan training yang diadakan oleh partner company perusahaan tempat aku bekerja. Indra adalah salah satu rekan kerjaku, dia berbagi cubicle yang sama denganku di kantor, dan di tempat kami bekerja, di mana kami – para pegawai muda, segar, baru lulus kuliah – harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, keberadaan rekan satu cubicle sangatlah penting.

Namun, meski berbagi cubicle yang sama, bidang training yang kami ikuti berbeda. Aku diperintahkan mengikuti training bidang administrasi, Indra di bidang IT. Kami akan sering terpisah. Dengan ketidakhadirannya, berarti aku tak bisa meminjam handphone, dan aku takkan bisa menghubungi siapapun di luar tempat pelatihan. Sebenarnya, mungkin aku bisa meminjam ponsel peserta training lainnya, namun aku adalah orang yang sulit bersosialisasi. Jangankan meminjam ponsel, sekedar berbicara basa-basi saja aku nyaris tidak bisa.

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut aku membeli sebuah ponsel seharga 55 ribu rupiah di toko ponsel di seberang hotel. Ponsel tersebut buatan Cina, layarnya hitam-putih, fiturnya sangat terbatas, tapi bagiku itu cukup.

Hari berikutnya, kegiatan training dimulai. Training tersebut, tiap harinya, terdiri dari tiga sesi. Sesi pertama, yang biasanya berlangsung dari pagi hingga siang, adalah sesi seminar dengan materi yang berbeda-beda. Di sana, aku merasa seperti kembali di kuliah, hanya saja, di kuliah aku bisa datang ke kelas mengenakan kaos, jins, dan santai, di sini kami harus mengenakan kemeja, dasi, rapi, rambut klimis, sepatu disemir, dan tidak santai. Sesi kedua adalah istirahat makan siang. Di sini, biasanya kami makan siang bersama pegawai-pegawai lain yang mengikuti training di bidang yang sama. Setelah itu, sesi ketiga: seminar lagi, sampai pukul empat sore.

Aku tahu seharusnya aku tak mengeluh. Dengan mengikuti seminar, aku bisa menambah ilmu, keahlian, pengalaman, dan bahkan bertemu dengan pegawai-pegawai dari perusahaan lain. Kami bisa bertukar cerita, kontak, dan lain sebagainya. Namun, sayangnya, yang kurasakan hanyalah kebosanan. Dan juga kedinginan.

“Semangatlah, San,” kata Indra, di akhir pekan, tepatnya di malam keenam kami mengikuti pelatihan. “Tinggal seminggu lagi. Pasti cepat kok, nggak bakal kerasa.”

Aku menggerutu pelan, kemudian kembali meminum teh panasku. Aku masih kedinginan, dan di luar, hujan masih menderu.

Setelah sesi dari pagi sampai sore, di malam hari, kami diberikan waktu bebas. Beberapa dari kami pergi ke pusat kota berombongan. Beberapa, yang sudah lebih tua dan membawa keluarga mereka untuk menginap di hotel yang sama, berjalan-jalan dengan mobil pribadi menuju pusat kota atau tempat-tempat kuliner. Sisanya, yang tidak memiliki keluarga untuk diajak, uang untuk dikeluarkan, menghabiskan malam-malam kami, bersama-sama, di rumah makan besar namun murah di sebelah hotel.

Kami menyebut diri kami ‘bujang’, dan aku serta Indra termasuk di dalamnya.

“Tapi, kenapa kamu tidak jalan saja? Sama orang-orang IT lainnya?” tanyaku.

“Aku tidak punya cukup uang, dan lagipula,” Indra menyeruput tehnya, “Di sini bakalan jauh lebih ramai.”

Aku bertanya-tanya apa maksudnya, namun mendadak beberapa orang menyapa Indra dan bersalaman dengannya. Mereka bergabung bersama kami di meja kami, menyeret kursi dan meja lainnya, menggabungkannya membentuk meja besar. Pelayan rumah makan tampaknya tidak keberatan.

Kami mengobrol, bercanda, dan bergurau. Saling memperkenalkan diri satu sama lain. Indra membantuku cukup banyak, berbicara untukku jauh lebih banyak dibandingkan diriku sendiri. Kemudian, dari perkenalan, kami mulai bergeser ke topik nostalgia. Ke kampus mana yang kami datangi, kuliah jurusan apa yang kami ambil, dan seterusnya. Dibandingkan dengan orang-orang tersebut, yang beberapa di antaranya bahkan masih mengenakan jaket aktivis dari jaman mereka kuliah, dan beberapa bahkan mengaku bahwa mereka menjadi pegawai hanya sekedar untuk mencari pengalaman dan bahwa mereka berniat menjadi aktivis politik atau wirausahawan dalam beberapa tahun ke depan, aku merasa seperti sampah.

Di tengah-tengah itu semua, ponsel Indra berdering. Dia mengangkatnya, dan kemudian berkata, “Udah di dalam. Kamu di mana? Kami di dekat pojokan!”

Kemudian dia mematikan ponselnya, berdiri, dan melambaikan tangannya. Aku menoleh ke arah dia melambai, dan melihat lima orang cewek baru saja masuk ke dalam restoran. Salah satu dari cewek-cewek tersebut melambai balik, dan mereka berjalan ke meja kami.

“Kirain dimana! Kenapa nggak SMS?” tanya cewek yang melambai barusan.

“Aku udah SMS kok. Mungkin nggak sampai? Sinyalnya buruk,” kata Indra.

“Ah, Bogor dan hujannya dan sinyal yang buruk. Sempurna,” kata si cewek, tampak agak kesal. Namun, Indra menghiburnya dengan cepat dan memperkenalkan cewek-cewek tersebut pada kami, para bujang, dan sebagai gantinya kami memperkenalkan diri pada mereka. Lebih banyak lagi kursi ditarik, dan satu meja lagi yang digabung, dan kami bertambah besar.

Kami mengobrol riang. Para bujang, para cowok-cowok kesepian ini, jelas sangat senang bisa makan bareng mereka, para cewek tersebut, yang ternyata juga mengikuti training IT, dan diajak oleh Indra untuk bergabung untuk malam tersebut.

“Ini akhir pekan, ‘kan? Masa’ nggak ramai?” kata Indra keras-keras, disambut oleh persetujuan dari kami semua. Gelas diangkat, sulang dilakukan, makanan dipesan, dan obrolan dilanjutkan.

Di tengah-tengah segala kegaduhan dan kebisingan tersebut, aku menyadari satu orang cewek yang tidak tampak menyatu dengan mereka. Memilih untuk makan dengan tenang sembari hanya membalas pembicaraan-pembicaraan secukupnya. Dia juga tertawa, namun tawanya bukan lepas melainkan elegan, anggun, dan manis.

Aku mencoba berbicara dengannya. Aku agak buruk dengan basa-basi, namun dia tampak mendengarkanku. Maksudku, dia tampak benar-benar memperhatikan apa yang sedang kukatakan. Mungkin hal tersebut sepele bagi kalian, namun bagiku itu adalah hal yang sangat jarang terjadi padaku. Dia menjawab secukupnya, kemudian kami mengakhiri percakapan kami dengan sedikit candaan dariku, yang kupikir agak garing, tapi dia tetap tertawa.

Setelah itu, aku melihat dia bercakap-cakap dengan seorang cowok, salah satu dari kami, para bujang. Cowok tersebut adalah salah satu cowok yang barusan kusebut sebagai cowok yang mengaku bahwa menjadi pegawai hanyalah sebuah batu loncatan, bahwa dia ingin menjadi pengusaha, atau mungkin menjadi aktivis politik. Mereka tampak bercakap-cakap dengan seru, tawanya terdengar lebih manis dan lebih banyak dibandingkan saat denganku. Obrolan di meja berlanjut, dan menjelang kami mau kembali ke hotel, dan berpisah ke kamar kami masing-masing, aku melihat cowok tersebut – mulai dari sini aku akan menyebutnya sebagai BS alias Bujang Sukses – mengeluarkan handphone-nya, sepertinya iPhone, dan si cewek juga mengeluarkan miliknya. Dari apa yang bisa kulihat sembari aku melewati mereka, sepertinya mereka sedang bertukar nama Facebook masing-masing.

“Jangan lupa di-add ya,” kata si BS.

Aku menghela napas.

***

Hari Minggu pagi tiba. Koridor hotel tampak sepi, selain kami sepertinya tak ada lagi yang menginap di lantai tersebut. Aku melewati hari tersebut dengan setengah-sadar: bangun pagi, mandi, bersih-bersih ruangan, menaruh baju di laundry, berjalan kembali ke kamar, tidur-tiduran. Singkatnya, aku tidak melakukan banyak hal. Sama seperti diriku yang biasanya. Tapi, di sore hari hal tersebut berubah saat aku bertemu dengan Indra dalam perjalananku mengambil cucian di laundry.

“Yo, San,” sapa Indra kepadaku, berjalan ke arah berlawanan sembari mengetik di ponselnya.

“Yo, Ndra. Lagi ngapain?” tanyaku.

“FB-an. Nge-add anak-anak yang semalam,” jawab Indra.

“Oh,” kataku, mengangguk. Dia melangkah menjauh, namun mendadak aku mendapatkan ide.

“Indra, kamu punya nomor cewek-cewek semalam nggak?” Aku bertanya padanya.

Indra menoleh padaku. “Punya,” jawabnya. “Kenapa memangnya?”

“Aku boleh minta nggak? Terutama cewek yang semalam pakai baju cokelat, kamu tahu namanya?”

“Si Dita? Dan bukannya kalian semalam sudah kenalan?”

“Ya, aku lupa tapinya,” kataku. “Jadi, boleh minta nomornya Dita?”

Aku bersyukur karena Indra tidak bertanya macam-macam. Dia memberikannya padaku, kemudian kembali berjalan. Aku setengah-berlari ke tempat laundry, mengambil cucianku dan membawanya kembali ke kamar. Kemudian, aku melihat nomor tersebut, nomornya Dita, yang terpampang di ponselku. Ponselku, yang harganya hanya 55 ribu rupiah. Jauh di bawah level ponsel si cowok BS, dan bahkan masih jauh di bawah level ponselnya Dita. Aku menimbang-nimbang sejenak.

Lalu, aku memencet tombal Call.

“Halo?”

Suaranya, meski berada jauh di seberang ponsel, dapat kukenali dengan jelas sebagai suaranya. Menelan ludahku, aku berbicara.

“Halo, ini dengan Dita?”

“Iya benar, ini dengan siapa ya?”

“Ini saya. Irsan, yang semalam, ingat tidak?”

“Oh, iya, saya ingat,” dan saat itu, aku membayangkannya tersenyum. “Ada apa Irsan? Kok nelpon?”

Dan aku pun mengungkapkan maksud dan tujuanku menelponnya.

Malam itu, kami makan bersama di warung yang berada di seberang jalan, persis di sebelah toko tempatku membeli ponsel 55 ribu. Warung tersebut jelas jauh berbeda dibandingkan rumah makan besar tempat kami biasa makan selama seminggu training, menu yang disajikan juga jauh lebih sedikit, namun ada mie ayam bakso dan jeruk panas yang menghangatkan kami sementara hujan mengguyur di luar.

Kami bercakap-cakap ringan. Kami bertukar cerita mengenai diri kami masing-masing. Aku mengetahui bahwa dia “Pindah ke Jakarta setelah lulus SMA, mencoba mencari peruntungan di kota besar, berhasil menemukan beasiswa yang bagus, tempat kuliah yang lumayan, dan pekerjaan yang mencukupi.” Seluruh keluarganya masih ada di Jawa Tengah, dan dia mengunjungi mereka di setiap libur panjang.

“Oh, dan aku suka mie ayam,” katanya sembari nyengir padaku. “Makasih udah ngajak makan di sini!”

Sejujurnya, aku tidak tahu ada warung mie ayam tersebut hingga beberapa jam yang lalu, saat aku menelponnya dan mengajaknya jalan dan melihat keluar dari jendela di kamar dan melihat adanya warung mie ayam. Saat dia bertanya, “Mau makan di mana?” aku menjawab, “Di depan hotel, ada warung mie ayam yang enak.”

Hingga kini, aku bertanya-tanya apakah alasan dia setuju untuk kencan pertama bersamaku itu adalah karena tawaran mie ayam, dan bukan karena aku sendiri. Mungkin kalau aku mengajaknya makan sate, dia akan menolak ajakanku?

“Terus, bagaimana denganmu?” tanyanya.

Aku ragu-ragu, namun akhirnya aku bercerita kepadanya. Aku memberitahunya bahwa aku “Juga berasal dari Jawa, dan keluargaku hidup berkecukupan. Kakak-kakakku seluruhnya sukses, kakak yang pertama kuliah S-2 di luar negeri, yang kedua sedang kuliah jurusan Seni Rupa di Bandung.”

Aku ingin menambahkan bahwa mungkin karena aku dimanja dari kecil makanya sekarang aku jadi payah, sedikit teman, dan mengecewakan orangtua berkali-kali, namun aku memilih untuk tidak mengatakannya.

Masih dalam topik keluarga, dia menceritakan padaku tentang keluarganya yang besar. Mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya, dia menggambar silsilah keluarganya, dari kakeknya, paman-bibinya, hingga ke keponakannya yang paling kecil. Kemudian, dia mulai menjelaskannya satu per satu.

“Sepupuku jumlahnya belasan, dan banyak yang sudah menikah,” katanya.

Dia menyodorkan pulpen dan buku catatan kecil tersebut padaku, memintaku untuk menjelaskan tentang keluargaku. Namun, aku menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Dari kecil aku tinggal hanya bersama orangtua dan saudaraku. Ayah dan Ibu bukan asli Jawa, mereka asli dari Bima. Keluarga besar ada di sana, tapi kami belum pernah mengunjungi mereka,” jawabku.

“Wah, sekali-kali kunjungi lah,” katanya, tersenyum. “Enak lho punya keluarga besar.”

Aku setuju dengannya, dan aku berpikir mungkin itu juga yang menyebabkan aku sejak kecil dimanja. Kami, kelurgaku, hanya memiliki satu sama lain di rumah. Rasa sayang kami terhadap satu sama lain sangat besar. Dan mungkin karena itu pula sampai sekarang aku payah, dan sulit dalam bergaul, yaitu karena aku terlalu melekat dengan keluargaku sehingga susah untuk bisa akrab dengan orang lain.

Waktu berlalu. Hujan perlahan-lahan mereda, si empunya warung mau tutup, dan kami pun kembali ke hotel.

“Makasih sudah ngajak aku makan mie ayam,” katanya, tersenyum lebar.

“Nggak masalah,” jawabku. “Malah, kalau mau…”

Aku ragu-ragu. Kencan pertamaku dengannya tidak seromantis yang kukira dan kuharapkan. Beranikah aku mengajaknya lagi? Lebih dari itu, maukah dia makan bersamaku lagi? Sejenak, aku ingin mengurungkan niatku. Mungkin memberi waktu semalam untuk menenangkan diriku sendiri, dan baru mengajaknya lagi besok pagi. Mungkin via SMS. Namun, aku teringat bahwa sinyal agak buruk di kota tersebut. Ada kemungkinan SMS dikirim pagi, nyampainya baru malam. Bagaimana kalau setelah ini dia diajak berkencan oleh si cowok BS?

Akhirnya, aku mengajaknya. Dan di luar dugaanku, dia menjawab ya.

“Boleh! Mie ayam lagi ya!” katanya dengan riang.

Malam itu, di kamarku, aku merasa sangat bahagia.

***

Sejak hari Minggu itu, kami berkencan setiap malam. Di hari Senin dan Selasa aku mengajaknya makan mie ayam lagi. Di hari Rabu dan Kamis, setelah aku mengetahui dari temannya bahwa dia suka soto ayam juga, aku mengajaknya makan soto ayam di rumah makan beberapa ratus meter dari hotel.

Kami mengobrol, kami bersenang-senang. Bersamanya, aku merasa cukup lepas, cukup bebas, cukup leluasa untuk menceritakan berbagai hal yang sebelumnya takkan mungkin bisa kuceritakan pada siapa pun. Dia juga menceritakan rahasia-rahasianya, dan di akhir setiap malam, kami akan kembali ke kamar dengan bahagia.

Tanpa ponsel dengan kemampuan menjelajah internet, dan pulsa yang sangat terbatas, kami memaksimalkan perbincangan kami saat kami bertatap muka langsung. Tidak ada SMS gombal. Tidak ada chat di tengah malam. Kami membuat janji ketemuan untuk malam Kamis di akhir kencan kami di malam Rabu, dan seterusnya.

Lalu, meski dengan segenap usahaku, meski dengan bantuan – bahkan saran-saran dari Indra – aku tidak menyatakan perasaanku kepadanya, mengungkapkan hatiku, cintaku, atau hal-hal manis seperti itu kepadanya. Sebagian karena aku kurang yakin, sebagian karena aku tidak ingin. Aku tidak ingin merusak apa yang ada di antara kami. Kami bersenang-senang, dan bagiku itu sudah cukup.

Kemudian, sekali lagi, aku adalah orang yang pelupa. Cukup pelupa hingga meninggalkan handphone di bus. Ponsel 55 ribu milikku tidak memiliki kamera, sehingga aku tidak pernah mengambil foto saat kami sedang bersama. Aku tidak bisa membuka FB-nya karena ponselku tidak bisa terhubung ke internet, sehingga aku tidak memiliki fotonya. Selama seminggu berkencan bersamanya, aku selalu hampir tidak bisa mengingat bagaimana rupanya. Aku mencatat hal-hal penting mengenai dirinya – suka warna cokelat, mie ayam, soto, nasi goreng; rambutnya hitam legam, terurai hingga ke bahunya, mata cokelat, kulit cerah, tangan lembut, dan seterusnya – di buku catatanku. Dengan konyol, setiap menunggu bertemu dengannya di lobi, aku selalu membaca-baca catatanku untuk memastikan aku tidak akan salah orang.

Namun, tetap saja, setiap kali aku bertemu lagi dengannya, aku merasa dia lebih cantik daripada sebelumnya.

Hari Sabtu pun tiba. Seperti yang Indra katakan, seminggu itu rasanya sangat cepat. Setelah acara pelepasan, seluruh pegawai kembali ke kota mereka masing-masing. Beberapa, seperti aku dan Indra, pulang sendiri-sendiri, sedangkan beberapa menyewa minibus untuk pulang bersama. Aku menemuinya di depan minibusnya, dia pulang bersama rombongan cewek-cewek IT tersebut.

Dia tidak lagi mengenakan seragamnya, kemejanya, baju resmi, atau bahkan baju yang dia kenakan untuk kencan-kencan kami bersama. Dia mengenakan kaos biasa, jaket yang sedikit kedodoran, dan jins yang sudah agak memudar. Singkatnya, penampilannya santai, sama sepertiku, sama seperti pegawai-pegawai lainnya yang akan menempuh perjalanan ke kota mereka masing-masing.

Jujur, menurutku dengan penampilan apa adanya itu, dia tampak sangat manis.

“Jadi, terima kasih untuk mie ayamnya,” katanya.

“Mungkin kita bisa berterima kasih ke tukangnya langsung?”

Dia tertawa, dan aku tertawa bersamanya. Kemudian, secara mengejutkan, dia meletakkan tangannya di bahuku, dan kami pun bertatapan.

Entah berapa lama aku menatapnya. Tenggelam dalam matanya, wajahnya, dirinya. Aku tak tahu apa yang harusnya terjadi, dan apa yang mungkin bisa terjadi. Akhirnya, dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata, “Hati-hati di jalan ya.”

“Oke,” kataku.

“Salam juga buat Indra ya,” katanya, berjalan kembali ke minibusnya.

“Indra masih di sini kok!” Aku berkata padanya, menunjuk Indra di belakangku dengan ibu jariku. “Kenapa tidak sampaikan langsung?”

Dia tertawa lagi, dan melambai padaku, kemudian naik ke dalam minibus. Mereka pergi. Mereka melambai pada kami, banyak dari kami – terutama para bujang – yang melambai balik, namun aku berkonsentrasi pada Dita. Dita, yang selama seminggu terakhir telah membuatku sangat bahagia, jauh lebih bahagia dibandingkan apa pun yang pernah kualami sebelumnya. Dita, yang duduk di kursi pojok kanan belakang minibus tersebut. Dita, yang akhirnya pergi bersama kisah kami.

“Aku baru sadar,” kataku kepada Indra, dalam perjalanan kami ke terminal bus. “Kota ini sangat cantik.”

Itu memang benar. Dengan pohon-pohon yang memayungi setiap jalan rayanya, bangunan-bangunan kunonya, langitnya yang kelabu, rintik-rintiknya, dan matahari yang mengintip di antara celah-celah awan, membentuk garis-garis cahaya di angkasa, kota tersebut sangat indah. Sangat cantik.

“Orang cinta mah, apa aja pasti dibilang cantik,” ledek Indra, terkekeh padaku.

Kami saling ledek sepanjang perjalanan, namun otakku memikirkan apa yang dia katakan. Cinta? Apakah itu yang kurasakan kepada Dita? Apakah kencan-kencan tersebut, makan malam bersama dengan mie ayam, soto ayam, dan sebagainya itu, bisa disebut cinta? Rasa bahagia, senang, setiap kali bertemu dan berjalan bersamanya, adalah cinta?

Saat itu, aku tidak tahu. Namun ketidaktahuanku sirna saat kami tiba di terminal. Di sana, saat kami membeli tiket, seorang petugas keamanan menghampiri kami.

“Maaf, apakah Anda Bapak Irsan?” tanya petugas tersebut.

“Iya, benar,” jawabku, agak terkejut. Kesalahan apa yang telah kulakukan?

“Dua minggu lalu, Anda melaporkan kehilangan handphone, bukan?”

“Iya.”

“Kami menemukannya dua hari setelah Anda melapor. Handphone Anda sekarang bisa diambil di tempat barang hilang.”

Setengah berlari, aku dan Indra datang ke tempat tersebut. Kami melaporkan identitas kami, dan setelah pengecekan singkat, sebuah handphone diberikan kepadaku. Handphone yang sama, merk yang sama, dan bahkan masih menyala.

“Kebetulan di sini ada charger yang sama, jadi saya isi terus baterainya setiap dua hari sekali,” kata petugas di tempat tersebut.

Setelah berterima kasih padanya, kami berjalan menuju bus. Indra sangat senang, dia memuji-muji pelayanan dan keamanan bus-bus antar provinsi jaman sekarang. Dia juga berkata, karena handphone-ku telah ketemu, aku harus mentraktirnya.

Aku mengangguk mengiyakannya, sama senangnya seperti dirinya, namun karena sesuatu yang berbeda. Saat membuka kunci handphone-ku tersebut, aku melihat ada beberapa notifikasi yang belum dibuka.

Salah satu dari notifikasi tersebut adalah friend request dari Dita.

Aku telah membukanya, masuk ke profil FB-nya, dan menerima request tersebut.

Saat itulah, aku tahu bahwa kisah kami belumlah berakhir.

Kisah kami baru saja akan dimulai.

Iklan

Ayo berkomentar... :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s