Public, Traveling
Comment 1

Di Bruges

“Bruges. Where is that?”

Tidak jauh dari Brussels, menaiki kereta api satu kali tanpa transit, aku tiba di sebuah tempat yang digadang-gadang sebagai kota paling terkenal di Belgia. Begitu menginjakkan kaki di sana, aku pun langsung menyadari bahwa berita yang kudengar dari kota itu tidak main-main: the hype is real. Ratusan turis mengalir keluar dari stasiun setiap detiknya, melangkah beramai-ramai menuju halte bus, atau berjalan kaki, atau membuka sepeda lipat mereka dan mulai melaju menuju pusat kota.

Bruges. Aku mengetahui nama kota ini dari sebuah film. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa lagi mengenainya. Situs wisata apa yang terkenal, makanan khas setempat, lokasi-lokasi untuk pestanya, tempat kumpul anak muda, komunitasnya, sama sekali tidak ada yang kuketahui. Aku tidak punya ekspektasi sama sekali mengenai apa yang akan kuhadapi di sana atau apa yang kuharapkan dari kota itu.

Or… maybe I did?

tumblr_mr6nm4trjc1s1nr8qo1_500

Yes. Yes, I did.

Begitu mencapai halte bus stasiun, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek peta. Ini adalah langkah yang sangat penting yang seringkali dilupakan banyak orang (termasuk aku sendiri) saat baru tiba di sebuah tempat baru: knowing where you are. Stasiun Bruges berada hampir di tengah-tengah kota. Hampir semua bus juga singgah di halte stasiun. Aku mengamati setiap jalur bus, berusaha mengingat-ingatnya, mendapatkan gambaran umum mengenai bus nomor berapa yang harus dinaiki untuk mencapai pusat kota, pinggiran kota, bagian Utara, Timur, Selatan, Barat, dan seterusnya.

Setelahnya, yang kulakukan adalah berjalan kaki. Jarak dari stasiun ke tempatku menginap, Lybeer Travelers’ Hostel, tidaklah terlalu jauh. Namun, saat aku tiba di sana, sepertinya karena masih terlalu siang, check-in belum bisa dilakukan. Walhasil, setelah menaruh ransel di lemari penyimpanan, aku pun langsung cabut, jalan-jalan, ke pusat kota.

Too many places that I have to visit, pikirku saat itu. Which one first?

IMG_0246

IMG_0247

Sembari berjalan-jalan, semakin jauh dari hostel dan semakin dekat posisiku dengan pusat kota, semakin ramai juga turis yang berlalu-lalang. Sangat jauh berbeda dari di film In Bruges, yang menggambarkan kota ini sebagai tempat yang cantik, historical, sasaran turisme tapi tidak terlalu ramai, Bruges yang kutemukan adalah kota yang hampir sama ramainya dengan Blok M di hari Minggu. Toko-toko cokelat, merchandise, suvenir, berjejer di kanan-kiri jalanan cornblock dan bersandingan serasi dengan bangunan-bangunan tua lainnya.

Dengan sengaja, aku tidak menggunakan peta selama berjalan-jalan di kota ini. Ada sesuatu di dalamnya yang membuatku merasa tidak akan tersasar; mungkin itu adalah efek dari banyaknya orang-orang, atau karena aku tahu bahwa sebagian besar orang di sini bisa berbahasa Perancis dan Inggris, atau karena aku sudah berada di jalan selama hampir satu minggu, sendirian, dan prospek untuk kesasar tidak lagi membuatku sekhawatir seperti saat aku baru memulai perjalanan ini.

IMG_0255

IMG_0268

IMG_0267

IMG_0260

Setelah berada di kota ini dan menjelajahinya, aku pun kian menyadari bahwa tidak semua hal yang ada di In Bruges benar-benar ada di sini. Tadinya, aku membayangkan kota ini sebagai tempat yang idyllic, quiet and reserved, with many historical sites, tapi ternyata terlalu banyak turis yang sudah mengetahuinya sehingga banyak tempat yang tadinya ingin kukunjungi jadi tidak jadi gara-gara antriannya terlalu panjang. Target utamaku, mencapai puncak Menara Jam, tempat yang menjadi lokasi penting dalam film In Bruges? Tidak berhasil tercapai karena, yah, antriannya memanjang sampai ke jalan raya.

Tapi, sepertinya itu bukan salah kota ini melainkan salahku sendiri: setelah mengobrol-ngobrol sedikit dengan orang-orang di hostel, aku diberitahu bahwa bulan-bulan Desember dan Januari memang periode banyak turis yang datang, maklum dengan libur natal dan sebagainya, banyak orang yang ingin melihat-lihat tempat bersejarah ini. Belum lagi dengan sedemikian banyaknya katedral yang digunakan, banyak peziarah dari berbagai kota yang datang.

If you want it,” kata salah seorang tamu di hostel juga, “Try to come in January. It will be a whole lot quieter than now.”

Namun, Januari adalah bulan dimana aku sudah harus kembali ke kampus untuk menjalankan ujian terakhir dalam semester kemarin, dan bersiap-siap untuk pindah ke laboratorium di Montpellier untuk menjalankan penelitian, maka aku pun tidak jadi datang berkunjung lagi ke kota ini. Sama seperti Brussels, hal paling besar yang kurasakan di kota ini adalah kekecewaan: it was not a place that I expected it to be.

However, I couldn’t really complain. I was standing in one of the most beautiful city in Belgium, in Europe even, surrounded by people from various countries and standing historical monuments. Setidaknya, meski aku tidak bisa naik ke puncak Menara Jam, kesepian, dan tidak menemukan gadis seperti Chloe, aku bisa ambil banyak foto-foto.

Dan, sama seperti harapanku saat di Brussels, semoga suatu hari nanti aku bisa kembali ke sini.

IMG_0293 IMG_0294

Iklan

1 Komentar

Ayo berkomentar... :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s